Tentang Seruan

(seri Catatan Perjalanan Saudaraku)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S Ali Imran : 104) “

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S Al-Baqarah:269)

Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu (Q.S An-Nisaa’:113)

” Islam adalah nidzam (aturan) komprehensif yang memuat seluruh dimensi kehidupan. Ia adalah daulah dan tanah air atau pemerintahan dan ummat, ia adalah akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Ia adalah tsaqafah (wawasan) dan qanun (perundang-undangan ) atau keilmuan dan peradilan, ia adalah materi dan kesejahteraan atau profesi dan kekayaan. Ia adalah jihad dan dakwah atau militer dan fikrah, sebagaimana ia adalah aqidah yang jujur dan ibadah yang benar. (Hasan Al-Bana)”

Sudah menjadi kewajiban kita untuk menyeru manusia kepada Allah, dengan segala daya dan upaya kita. Dalam perjalannannya seruan kita kadang tidak didengar atau hanya dianggap sebagai angin lalu saja. Lantas ketika tidak ada yang mau mendengar seruan kita , kita akan diam ditempat atau bahkan mundur dari kewajiban dawah ini ? seorang kader dakwah tentu tidak akan melakukannya, kader dakwah akan selalu senantiasa berada pada jalan yang diambil oleh Rasul dan para sahabat yaitu jalan dakwah.

Seruan kita harusnya seruan mulia, seruan menuju Allah, bukan seruan yang didalamnya terdapat misi-misi dunia, misi kekuasaan atau misi untuk mendapatkan materi.

Seruan kita adalah seruan dalam rangka ibadah, untuk menegakan kalimat Allah di muka bumi ini, mengajak manusia dari kegelapan menuju terang, meluruskan yang bengkok, menegakan yang rubuh, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar.

Seruan kita haruslah dengan cara yang baik dan penuh hikmah, penuh kekeluargaan tanpa membedakan kelompok, lingkungan, latar belakang dan tingkatan sosial. Tidak seharusnya seruan kita hanya didengar oleh sebagian orang saja, hanya ditujukan untuk sebagian kelompok saja atau dilingkungan tertentu saja. Sungguh sia-sia seruan ini, bila kita merasa orang yang paling baik, yang paling benar sehingga tidak pantas orang lain untuk duduk sejajar dengan kita, atau berada dalam satu struktur dengan kita.

Sungguh sempit cara berpikir kita bila harus mengasingkan diri dari masyarakat hanya karena khawatir terpengaruh perilaku yang buruk, sementara masyarakat menunggu seruan bukan alergi kita.

Mari kita menyeru dengan beraksi, kita libatkan masyarakat dalam aksi kita, niatkan untuk memperbaiki sebanyak mungkin akhlak masyarakat, jangan niatkan untuk mencari pengikut.

Beginilah seruan kita di masyarakat

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.