Tentang Pemimpin

(seri Catatan Perjalanan Saudaraku)

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S At-Taubah : 128 )

Begitu indahnya kepemimpinan Rasulullah, penuh hormat dan sayang kepada sahabatnya, dan begitu sebaliknya sahabatnya pun hormat dan patuh kepadanya.

Kepatuhan dan rasa sayang para sahabat kepada Rasul bukan lah kepatuhan yang dipaksakan dengan ancaman hukuman, hal itu mengalir begitu saja bagai air yang menguap ke langit yang  akan kembali turun sebagai hujan menjadi satu siklus yang tetap. Rasa sayang dari rasul kepada sahabatnya yang membuat Umar bin Khaththab berkata “Engkau lebih kucintai lebih dari kecintaanku kepada diri dan keluargaku sendiri, ya Rasulullah

Tak ada rasa takut, yang ada adalah rasa cinta, tak ada penghianatan, yang ada adalah kepatuhan. Mereka akan terus mengamalkan perkataan dan perbuatan Rasul selamanya, diwariskan kepada setiap generasi dari masa ke masa walaupun Rasul telah tiada.

Saat dimana catatan ini berada, tak ada lagi pemimpin seperti Rasulullah, yang ada adalah pemimpin yang berebut kekuasaan dengan berbagai kepentingan, mereka mencari popularitas, mereka investasikan kepopulerannya agar dapat dijual agar bisa membeli kedudukan dalam organisasi yang menguntungkan. Mereka bersaing untuk mendapatkan berbagai macam kepentingan dunia tanpa peduli kondisi sekitarnya.

Organisasi islam mempunyai satu kepentingan yang harusnya dapat meluruskan kepentingan-kepentingan dunia tersebut, organisasi islam mempunyai nilai dakwah yang lebih dari sekedar nilai popularitas atau komersial, kepentingan dakwah ini dasarnya hanya satu, yaitu meraih ridha Allah swt.

Mampukah kita menjadikan tujuan ini sebagai pijakan kita dalam berorganisasi ?, mampukah kita meluruskan kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin atau senior kita ?, ya senior kita memang lebih berpengalaman, tapi  ia adalah manusia yang bisa salah juga, yang harus diluruskan, agar kesalahan nya tidak terjadi terus-menerus. Adalah perbuatan yang baik bila kita hormat dan patuh kepada pemimpin kita, tapi bentuk penghormatan itu ada saatnya harus berubah, saat terjadi penyimpangan dari aturan, saatnya tidak lagi kita menurut dan mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin kita tapi kita meluruskannya secara tegas tapi bersahabat.

Indah ya, organisasi dalam islam, saling menghormati, saling menyayangi, ada kepatuhan tapi bukan taklid, ada kritikan tapi bersahabat, ada kebersamaan bukan kelompok-kelompok, saling melengkapi, saling menutupi kekurangan, menjadi pakaian untuk yang lain, ada pemimpin yang menyayangi, ada anggota yang menghormati, tidak ada kepentingan lain selain mencari ridha Allah swt.

Seorang pemimpin mengerti bahwa amanah yang diembannya tidak akansanggup dipikul sendirian, ia harus memberikan kepercayaan kepada anggotanya untuk membantunya, tapi tidak lantas ia pun berdiam diri dengan memberikan semua tugas kepada anggotanya. Ingat sebuah peristiwa ketika rasul bepergian bersama sahabatnya, pada saat mereka lapar, salah seorang sahabat berkata, “Aku akan menyembelih unta“, yang lainnya mengatakan akan menyiapkan pisau yang tajam, yang seorang lagi mengatakan akan menyiapkan perapian, dan Rasul mengatakan, “Aku akan mencari kayu bakar“, saat itu juga ketiga sahabat ini berkata, “Biarkan kami yang bekerja ya Rasul” dan Rasulpun berkata “Kenapa tidak kalian beri aku kesempatan aku ikut beramal“.

Jangan berharap orang akan patuh dan menghormati kita, bila kita tidak bisa menjadi contoh bagi mereka, bagaimana anggota kita akan hormat bila sebagai pemimpin kita tidak pernah hadir dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh organisasi yang kita pimpin,

organisasi islam adalah organisasi jamaah, bukan organisasi individu, disana ada syura yang harus ditaati, ada kerja yang harus dilakukan bersama, bukan ekploitasi toleransi pada pimpinan, bukan juga tuntutan berlebih dari anggota, ada keseimbangan agar semua berjalan pada porsinya masing-masing.

Setiap kita adalah pemimpin, dan setiap kita mempunyai beban amanah. Bagilah beban amanah itu , agar terasa ringan perjalanan dakwah ini, agar rapi organisasi kita , agar tidak ada agenda yang tertunda, agar mudah pertanggungjawaban kita sebagai pemimpin.

Begitulah Pemimpin yang di impikan.

Catatan ini akan berlanjut suatu saat ,….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.